Minyak Gosok cap Tawon Asli

Minyak Gosok Cap Tawon adalah produk obat-obatan yang wajib dimiliki oleh keluarga. Minyak Gosok cap Tawon diproduksi oleh PT. Tawon Jaya Makassar sejak tahun 1912 di Makassar.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, June 26, 2010

Hari Ini Akan Terjadi Gerhana Bulan Parsial

Masyarakat Indonesia mendapatkan kesempatan langka untuk melihat gerhana bulan parsial yang akan berlangsung sebentar sore, Sabtu, 25 Juni 2010 dari pukul 17.15 WIB hingga 20.00 WIB.

Gerhana bulan akan mencapai titik parsial pada pukul 18.40 WIB.

"Bulan sendiri akan terbit sekitar pukul 17.40 WIB sehingga saat terbitpun sudah terjadi gerhana,"ujar Kepala Observatorium Boscha, Hakim Malasan, Jumat 25 Juni 2010.

Hakim menjelaskan gerhana bulan akan berlangsung sekitar dua jam. Titik maksimal 50 persen bulan tertutup bayangan bumi pada pukul 18.40 WIB.

Bayangan bumi berangsur-angsur meninggalkan bulan pada pukul 20.00 WIB.

Jika cuaca dalam keadaan cerah maka
masyarakat dapat melihat dengan jelas dengan mata telanjang gerhana bulan parsial. Gerhana bulan parsial akan terjadi di ufuk timur bumi.

Tahun ini hanya terjadi dua kali gerhana bulan parsial, yaitu 26 Juni 2010 dan 21 Desember 2010.

Siklusnya 18 tahun sekali, untuk tahun ini hanya negara yang garis lintangnya sama dengan Indonesia dapat melihat gerhana ini.

sumber

Wednesday, June 23, 2010

Etika Shalat

Saat cahaya kenabian turun pada Rasulullah SAW, para malaikat saling mengucapkan selamat dan mengucapkan pujian kepada Allah atas kenikmatan besar ini. Rasulullah SAW mengemban tanggung jawab besar karena ditugaskan Allah SWT untuk memberikan petunjuk kepada ummat manusia.


Cara Shalat

Suatu hari, malaikat mendatangi Rasulullah SAW yang telah mempersiapkan diri untuk menerima wahyu dari Allah SWT. Malaikat pembawa wahyu mengucapkan salam dan Rasulullah SAW menjawabnya. Jibrail berkata, “Saya datang untuk memberitahu cara shalat kepada Rasulullah SAW.” Rasulullah sebelumnya juga menyembah Allah Yang Maha Esa. Akan tetapi beliau sangat berbahagia akan kedatangan malaikat Jibril kali ini, karena Jibril kali ini akan memberitahukan etika khusus dalam penyembahan kepada Allah SWT.
Saat membimbing Rasulullah Saw, malaikat Jibril memulainya dengan berwudhu, kemudian diikuti Rasulullah SAW. Setelah itu, Malaikat Jibril membimbing etika khusus shalat kepada Rasulullah SAW.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW diberitahu mengenai etika khusu shalat saat beliau melakukan mi'raj atau perjalanan ke langit.
Dalam perjalanan ke langit tersebut, Rasulullah SAW diminta melakukan shalat. Saat itu, telah turun pesan yang berbunyi; Bacalah Bismillahi Rahmanir Rahim, Alhamdulillahi robbil alamin dan seterusnya. Kemudian Rasulullah membacanya hingga akhir ayat. Setelah itu, Rasulullah Saw diperintahkan untuk melakukan ruku dan membaca kalimat, “Subhana Robbi Al –Adzim wa Bihamdihi”, sebanyak tiga kali. Kalimat itu berartikan; Maha Suci Tuhanku Yang Maha Besar dan Pujian bagi-Nya.” Kemudian Rasulullah diminta untuk berdiri kembali dan kemudian beliau diperintahkan melakukan
sujud. Rasulullah SAW pun melakukan sujud dan membaca kalimat, Subhana Robbi Al-A’la wa Bihamdihi sebanyak tiga kali. Kalimat itu berartikan; Maha Suci Tuhanku yang Yang Maha Tinggi dan pujian hanya bagi-Nya. Setelah itu, kembali terdengar pesan yang memerintahkan untuk duduk. Rasulullah SAW kemudian mengangkat kepalanya dari sujud dan duduk. Dalam posisi duduk, Rasulullah Saw merendah di hadapan kebesaran dan keagungan Allah SWT. Setelah itu, beliau diperintahkan untuk bersujud. Dengan demikian,setiap rakaat shalat mempunyai dua sujud.

Setelah itu, Rasulullah SAW menjalankan shalat sesuai dengan perintah Allah SWT. Rasulullah SAW kembali ke rumah dalam kondisi cahaya dan spritual luar biasa shalat yang masih melekat pada diri Rasulullah SAW.
Saat tiba di rumah yang langsung disambut istrinya, Sayidah Khadijah SA, Rasulullah SAW segera memberitahukan kepada istrinya kabar gembira mengenai bentuk ibadah terbaik, yakni shalat. Bagi Khadijah, kondisi spiritual saat itu merupakan hal yang luar biasa. Setelah mendengar kabar gembira tersebut, Rasulullah Saw dan istrinya berwudhu dan mengerjakan dua shalat. Tidak lama setelah itu, Imam Ali r.a juga bergabung. Mereka mengerjakan shalat dengan ikhlas dan khusyu.

Mukadimah Shalat


shalat mempunyai dampak yang luar biasa seperti ketenangan diri. Kami juga menyebutkan bahwa shalat disamping menciptakan ketenteraman diri, juga mempunyai peran dalam kesehatan mental dan jiwa. Hal yang tak bisa dipungkiri bahwa kenyamanan individu bergantung pada diri yang sehat

Kesehatan dan kebersihan lahirih adalah diantara masalah yang juga diperhatikan dalam shalat. Orang yang mengerjakan shalat, harus menjaga kesehatan dan kebersihan. Ketika berwudhu, seseorang juga dianjurkan menggosok gigi. Rasulullah SAW bersabda, “Dua rakaat shalat yang diawali dengan menggosok gigi atau siwak, lebih baik dari 70 rakaat tanpa menggosok gigi atau siwak.” Selain itu, seseorang yang hendak melakukan
shalat juga dianjurkan menggunakan minyak wangi. Imam Jaafar Shadiq ra berkata, “Shalat seorang hamba yang badannya wangi, lebih baik dari 70 kali shalat.”

Shalat harus dibarengi dengan rangkaian mukadimah dan etika. Sebelum shalat, seseorang harus melakukan wudhu terlebih dahulu. Dalam wudhu, ia harus membasuh tangan dan wajah sesuai dengan etika khusus, kemudian mengusap kepala dan kaki sesuai dengan etika khusus. Selain itu, seseorang yang mengerjakan shalat harus menjaga kesucian dan kebersihan diri dan mengenakan pakaian yang bersih. Dengan kondisi seperti ini, seseorang yang mengerjakan shalat akan merasakan kekhusukan luar biasa, karena benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadap Tuhan Yang Maha Agung.

Shalat Menahan Arogansi

Berdasarkan berbagai riwayat, menjaga etika dalam beribadah senantiasa menghantarkan manusia menjadi dekat kepada Allah Swt dan membuat manusia berada dalam kondisi tenang dan tenteram. Ditekankan pula, tempat yang digunakan untuk shalat, haruslah legal dan sah, bukan hasil ghasab. Hal inilah yang mendorong manusia harus menjaga hak orang lain. Etika tersebut mengajarkan kepada manusia bahwa shalat tidaklah benar bila hak-hak orang lain dilanggar.

Dengan demikian, shalat dapat menahan jiwa arogan manusia sehingga dapat menjaga hak-hak asasi orang lain serta menghasilkan ketenteraman dan keselamatan bagi setiap individu dan masyarakat. Untuk itu, para ulama akhlak menilai pengenalan pada Allah Swt sebagai jalan terbaik untuk membenahi hubungan makhluk dan Penciptanya. Menurut mereka, fasilitas ideal untuk mengenal Tuhan adalah shalat dan bermunajat kepada-Nya.
Rasulullah SAW dalam hadisnya menyinggung peran konstruktif shalat, dan bersabda, “Tidak ada shalat melainkan malaikat pada waktu shalat, kepada manusia berkata; Wahai manusia, bangkitlah dan padamkan api yang membakar dirimu dari tanganmu sendiri, dengan melakukan shalat.”

Sumber: IRIB

Friday, June 11, 2010

Waspadai Krayon, Penghapus dan Spidol

Kalangan pendidik dan orangtua siswa diimbau mewaspadai penggunaan plastik yang mengandung bahan kimia berbahaya pada perlengkapan alat tulis. Salah satu zat aditif berbahaya itu adalah phthalate, bahan pembuatan penghapus yang banyak digunakan siswa sekolah.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengkaji kecenderungan adanya bahan kimia pada alat kelengkapan siswa dan mainan anak-anak. Kajian dilakukan karena diduga kuat sejumlah alat kelengkapan sekolah dan mainan anak-anak itu mengandung zat kimia berbahaya.

Menurut Head Division of Science and Technology Service LIPI Agus Haryono, bahan plastik berbahaya itu antara lain monomer, zat tersisa yang tidak bereaksi saat pembentukan polimer. Styrofoam adalah salah satu bentuk monomer berbahaya. Selain monomer, zat berbahaya lainnya adalah pelentur plastik jenis phthalate.

Dalam keperluan sehari-hari, phthalate dipakai sebagai pelembut plastik mainan anak-anak, pipa PVC, fraksi minyak dalam parfum, zat tambahan dalam hairspray, zat tambahan pengoles kayu, dan pelentur jok mobil.

"Di dunia alat tulis, phthalate digunakan dalam pembuatan penghapus, untuk melembutkan karet agar mudah dibentuk," ungkap Agus dalam seminar "Alat Pendidikan Sehat bagi Siswa" di Balai Patriot, Kompleks Pemkot Bekasi, Rabu (9/6/2010).

Selain penghapus, alat kelengkapan lain yang patut diwaspadai adalah
krayon dan spidol. Krayon diduga mengandung unsur logam berat dan asbestos yang dalam jangka panjang menyebabkan gangguan pada otak, sistem saraf, dan metabolisme tubuh, serta memicu kanker. Sementara pelarut tinta spidol, xylene, bisa menyebabkan gangguan saraf jika terhirup dalam jumlah besar.

Dalam jangka pendek, pengaruh yang bisa dirasakan biasanya anak-anak mengalami mual, muntah, sakit perut, dan diare. Bahan-bahan berbahaya itu bisa masuk ke tubuh anak-anak melalui mulut, saat alat-alat itu dikulum, atau melalui hidung, saat anak-anak menghirup udara di sekitarnya.

"Sampai saat ini belum ada angka pasti korban akibat penggunaan bahan-bahan berbahaya itu. Mungkin karena itu sampai saat ini tidak ada larangan tegas dari pemerintah terkait penggunaan bahan-bahan tersebut," ujar Agus.

Pengurus YLKI, Huzna Zahir, mengatakan, di negara maju penggunaan plastik diatur dengan ketat, sedangkan di Indonesia hingga kini belum ada pengawasannya. Semestinya, kata dia, pemerintah memiliki standar baku yang harus dipenuhi pada mainan dan alat kelengkapan sekolah yang terbuat dari plastik.

sumber: Kompas

Monday, May 31, 2010

Mengapa Harus Shalat?

Manusia di hadapan Allah swt yang Maha Kuat dan Maha Penyayang merupakan makhluk yang lemah. Shalat adalah penghubung manusia dengan keagungan Allah swt. Ketika hati dirundung kegelisahan, hanya ibadah dan shalatlah yang dapat meringankan hati manusia. Melalui Ibadah shalat, rintangan dan kendala yang sulit dapat dihadapi dalam kehidupan ini.

Mengapa kita harus melakukan shalat?


Ini merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin saja terlintas dalam benak setiap individu. Dalam berbagai kondisi yang sulit, problema hidup dan kesibukan pada materi membuat hati manusia sempit. Pada saat itu, manusia berharap menemukan sebuah tempat berlindung dan kondisi tenang, sehingga dapat terlepas dari segala kegelisahan.

Banyak hal yang dilakukan oleh setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan tersebut. Menyendiri dan mendengar musik adalah di antara cara untuk mendapatkan ketenangan tersebut, namun kondisi itu tidak berlangsung lama. Akan tetapi, Islam memberikan solusi kepada manusia yang menginginkan ketenangan abadi. Menurut ajaran Islam, jika manusia membersihkan jiwanya, ia akan mencapai pada ketenangan dan kesucian abadi. Ketenangan abadi tersebut dapat diperolehi dengan shalat.

Ibadah, Kunci Berkepribadian

Seorang psikolog Inggris, Henry Lank, dalam risetnya terhadap lebih dari 10 ribu manusia yang mengalami tekanan jiwa dan pelaku kriminal, mengatakan, “Saya pada akhirnya memahami pentingnya ajaran agama dalam kehidupan manusia. Hal itu disimpulkan setelah melakukan berbagai riset. Saya mengambil kesimpulan bahwa manusia yang berpegang teguh pada
keyakinan agama dan rutin ikut serta dalam acara ritual di tempat-tempat suci, akan memiliki kepribadian yang tinggi.”

Dokter Edwin Frederick, salah satu dokter spesialis jiwa di AS mengatakan, “Kami seringkali menemukan kondisi pasien yang menurut para pakar dan dokter ahli, sulit disembuhkan. Akan tetapi sesuatu yang sangat berpengaruh pada kesembuhan pasien, adalah mukjizat seperti berdoa kepada Allah swt.”

Seorang psikolog asal Inggris, Sarel Bert, juga mengatakan, “Dengan bantuan shalat dan doa, kita dapat memasuki sumber besar aktivitas akal yang hal itu tidak dapat dilakukan dalam kondisi biasa.”

Poin tersebut sangatlah jelas bagi orang-orang yang tidak meninggalkan shalat. Shalat selain merupakan agenda terbaik untuk menenangkan jiwa manusia, juga dapat memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Selain itu, Shalat dapat dikatakan sebagai cahaya akal yang dapat mendewasakan kepribadian manusia.

Rasulullah saw menyebut shalat sebagai cahaya matanya. Beliau saw bersabda, “Segala sesuatu mempunyai wajah, sedangkan wajah agama adalah shalat. Berusahalah menjaga kesempurnaan dan keindahan wajah ini.” Dalam sebuah hadis disebutkan, saat waktu shalat tiba, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Bilal, hantarkan kami pada ketenteraman melalui shalat.” Disebutkan pula, Rasulullah saw saat dihadapkan kesusahan, ia langsung mengerjakan shalat dan meminta pertolongan Allah swt.”

Shalat Menerangi Jiwa

Dengan shalat, manusia akan mendekat pada sebuah sumber yang merupakan muara ketenangan. Manusia ketika mengerjakan shalat, berarti ia menjalin hubungan dengan wilayah sakral. Selain itu, hati seseorang akan merasakan sebuah gerakan ke arah kesucian. Al-Quran menyebutkan, shalat dapat menghalangi manusia dari tindakan buruk dan tercela, serta mengurangi peluang kriminalitas. Untuk itu, para tokoh agama menilai shalat sebagai
landasan kuat untuk melawan hawa nafsu dan bekal luar biasa untuk memperkokoh keimanan.

Shalat yang didirikan dengan sederet etika seperti bersuci, berwudhu, mencuci tangan dan muka, menggosok gigi dan mengenakan pakaian yang bersih, telah membentuk karakter terpuji pada diri manusia. Seseorang semakin memperhatikan ucapan dan gerakan dalam shalat, ia makin akan merasakan dampaknya dalam menerangi hati nuraninya.

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghimbau para pejabat dan masyarakat supaya menaruh perhatian pada urgensi dan dampak agung shalat. Dikatakannya, “Dalam tanggung jawab besar ini, kita harus melakukan instrospeksi diri dan menguji kinerja masing-masing. Data terpenting untuk menguji keberhasilan seorang petani dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas panen yang merupakan wujud hasil kerjanya. Ketika shalat pembangun jiwa menghiasi ruang kehidupan dan lorong-lorong hati manusia dengan sebuah harapan seperti sumber mata air yang jernih, maka ia akan mencapai hasil yang positif dan kerelaan.”

Shalat juga mempunyai syarat-syarat lain seperti tempat yang halal yakni bukan tempat ghasab, kesucian dan keindahan pakaian serta perhatian pada hak-hak orang lain. Kondisi semacam inilah yang membuat manusia harus menjaga dirinya sehingga tidak menindas dan menodai hak-hak orang lain. Syarat-syarat tersebut mencerminkan bahwa dampak-dampak konstruktif shalat dalam membentuk hubungan sosial yang ideal dan menumbuhkan perhatian pada keadilan di semua aspek.

Menjaga waktu shalat juga mencerminkan penekanan agama pada keteraturan dan kedisplinan dalam kehidupan individu dan sosial. Insya..., kami akan menjelaskannya dalam acara berikutnya. Dengan demikian, shalat adalah salah satu pondasi agama yang mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemapanan jiwa manusia.

Sumber: IRIB

Friday, May 14, 2010

Mengelola Keinginan

Seorang ibu yang memasuki usia lanjut menjadi sangat kurus dan sakit-sakitan memikirkan anak-anaknya yang belum menikah di usia matang dan juga anak lain yang mengalami perceraian.

Sementara Carol, murid SMA, hampir saja bunuh diri karena berturut-turut ditolak cintanya oleh dua gadis teman sekolahnya. Doni menyerang ibunya dengan kata-kata tajam karena ibunya banyak sekali menolak keinginannya.

Semua persoalan di atas bermuara dari adanya keinginan. Si ibu berkeinginan agar anak-anaknya hidup bahagia dalam perkawinan. Carol ingin diterima sebagai pacar gadis yang disayanginya. Doni memiliki banyak keinginan yang maunya terkabul semua. Sungguh, keinginan dapat membuat kita merasa menderita bila tidak tercapai.

Karena suatu keinginan tidak tercapai, ada kalanya seseorang putus asa. Ada yang melampiaskannya dengan usaha bunuh diri. Ada juga yang merespon dengan meniadakan keinginan yang menyebabkannya kecewa. Dapat diambil contoh, Bapak Ch, hingga lanjut usai ia memilih hidup lajang karena keinginannya untuk menyunting Tanti Yosepha tidak tercapai.

Bila keinginan tidak terpenuhi, kita dapat merasa kecewa, sedih, marah, dan merasa menderita. Bahkan seseorang dapat menderita (sakit fisik atau psikis) karena terlalu mengejar sesuatu hal dalam hidupnya.

Namun, meniadakan keinginan seperti Bapak Ch meniadakan keinginan untuk menyunting wanita juga tidak menjamin kebahagiaan. Yang penting adalah mengelola keinginan.

Keinginan yang kuat tetapi terkendali dan tidak egoistis, sangat dibutuhkan agar kita mengalami kemajuan serta hidup tenteram bersama orang lain. Keinginan yang terkendali disebut sebagai kehendak.

Hazrat Inayat Khan (1882- 1927), pendiri tarekat kesufian di Barat dalam bukunya yang berjudul asli Spiritual Dimensions of Psychology menyatakan pentingnya mempelajari eksistensi kehendak.

Hidup dan Keinginan Sepanjang hidup, selalu ada keinginan dalam diri manusia. Keinginan atau motivasi merupakan penggerak perilaku. Untuk dapat berjalan, kita tidak hanya membutuhkan kaki sehat, tetapi juga perlu keinginan untuk berjalan.

Untuk bicara, kita tidak hanya memerlukan alat-alat tubuh untuk bicara, melainkan juga mensyaratkan adanya keinginan bicara. Untuk hidup kita bukan hanya butuh makanan dan pakaian, tetapi diperlukan juga keinginan untuk hidup.

Kehidupan yang nyaman, kehidupan yang sejahtera, karya-karya agung umat manusia, perwujudan-perwujudan cinta dan kasih sayang antarmanusia, dsb, semuanya dapat terwujud karena adanya keinginan atau kehendak.

Tidak dipungkiri bahwa kerusakan dalam hidup manusia (bencana, perang, penyakit) terjadinya juga tidak lepas dari adanya keinginan-keinginan. Keinginan menguasai pihak lain menghasilkan perang; keinginan mengeksploitasi lingkungan alam menghasilkan bencana; dan keinginan untuk hidup bebas tanpa aturan dapat mendatangkan penyakit.

Dengan demikian, keinginan dapat dibedakan atas keinginan yang luhur dan yang merusak (destruktif). Keinginan luhur, dalam jangka panjang menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Sementara itu, keinginan destruktif (biasanya merupakan keinginan egoistis dari individu atau kelompok) dalam jangka panjang menghasilkan hal-hal yang merusak dan menimbulkan kesengsaraan bagi diri sendiri dan orang lain.

Di sisi lain, keinginan juga dapat dibedakan dari hal kuat atau lemahnya keinginan tersebut. Bila kita memiliki keinginan yang kuat dalam satu hal, kita memiliki daya penggerak untuk mewujudkannya menjadi suatu tindakan.

Lain halnya bila kita hanya sedikit memiliki keinginan dalam suatu hal, kita juga hanya memiliki sedikit daya penggerak untuk mewujudkannya menjadi suatu tindakan. Jadi, bila dalam hidup kita memiliki keinginan yang kuat, besar kemungkinan kita untuk mencapai sesuatu seperti yang kita inginkan.

Selain itu, keinginan dapat dibedakan dari terkendali atau tidaknya. Keinginan yang tidak terkendali menyeruak tanpa memedulikan situasi lingkungan ataupun diri sendiri, dan bila tidak tercapai kita akan merasa sangat menderita (frustrasi).

Sementara keinginan yang terkendali, meskipun mungkin kuat, perwujudannya dalam tindakan tetap menimbang situasi lingkungan dan diri sendiri, dan bila tidak tercapai kita tidak sampai sangat menderita.

Keinginan dan Kebijaksanaan Ada kalanya kita menemukan seseorang yang sangat aktif, banyak kemauan (keinginan). Ada yang aktif dan selalu mendahulukan/memaksakan keinginannya, dan ada pula yang aktif tetapi bijaksana mengatur keinginannya.

Menurut Hazrat Inayat Khan, orang yang setiap saat memaksakan kehendaknya, akan sangat cepat tegang dan membuatnya cepat lelah. Keadaannya dapat digambarkan seperti seseorang yang memegang seutas tali, dan dengan keyakinannya dia menggesekkan tali itu pada sisi tajam sebuah batu. Orang yang sering memaksakan keinginan seperti itu lebih sering cepat gagal.

Memaksakan keinginan atau kehendak adalah tindakan yang tidak bijaksana. Hal ini menunjukkan tiadanya pengendalian. Namun, orang yang bijaksana tetapi tanpa kehendak (tanpa keinginan kuat), sama payahnya dengan orang yang memaksakan keinginan. Ia tidak akan membawa kemajuan apa-apa.

Antara keinginan dan kebijaksanaan, keduanya perlu berjalan bersama dan selaras. Tidak perlu ada salah satu yang didahulukan. Sumber kebijaksanaan adalah
ketenangan pikiran. Bila pikiran tenang, ia akan menghasilkan pemikiran yang benar dan kebijaksanaan memancar darinya. Dalam ketenangan pikiran, kehendak dan kebijaksanaan menyatu dan mengantarkan seseorang pada keberhasilan.

Dalam kaitannya dengan mengelola keinginan, istilah “pemikiran yang benar” tersebut di atas berarti pemahaman yang benar terhadap keinginan yang ada dalam diri sendiri dan juga bagaimana mewujudkannya agar tidak mengganggu keselarasan dalam hubungan dengan orang lain.

Untuk itu, diperlukan juga pemahaman terhadap keinginan orang lain. Bila terdapat pengertian yang utuh antara keinginan sendiri dan keinginan orang lain, kita akan menemukan posisi yang tepat untuk menentukan tindakan yang terbaik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dengan mengenali keinginan-keinginan diri secara demikian, selanjutnya kita akan menemukan bahwa keinginan-keinginan kita yang egoistis atau keinginan-keinginan primitif mereda, sementara keinginan-keinginan yang luhur yang selaras dengan orang lain diperkuat.

Hal ini terjadi karena pemahaman yang utuh tersebut menghasilkan empati terhadap orang lain dan rasa sama dengan orang lain. Dengan sendirinya, keinginan-keinginan kita yang berkembang lebih lanjut adalah keinginan-keinginan yang selaras dengan orang lain atau keinginan-keinginan yang terkendali, yakni kehendak.

Kendalikan Emosi dan Tindakan Kehendak adalah hal yang luhur. Tanpa ada kehendak, tidak akan ada perkembangan kehidupan. Yang ada adalah impuls-impuls keinginan yang liar yang justru dapat membawa kesusahan, bahkan kematian.

Kehendak dapat diperkuat melalui latihan, dengan menanggulangi rintangan, baik di dalam diri atau di luar diri, melalui tindakan yang berlawanan dengan kecondongan diri sendiri (impuls).

Dengan memastikan impuls-impuls dalam pemeriksaan, kita tidak membiarkan diri dikuasai kemarahan, kesenangan, kesedihan, atau kesenangan dan kesedihan yang ekstrem. Kita juga tidak membiarkan diri dikendalikan oleh mood (emosi) negatif, dan bahkan dapat menggantinya dengan emosi yang positif.

Kemampuan seseorang untuk mengorganisasi dan mengatur tindakan-tindakan terjadi melalui perkembangan serangkaian kemampuan (Maccoby, 1980):

Mampu menunda tindakan-tindakan tertentu bila ia ingin meraih suatu konsekuensi-konsekuensi yang lebih dapat diterima. Contoh, untuk dapat mengalami perkawinan yang langgeng, ia menunda perkawinan sampai menemukan orang yang betul-betul dapat diandalkan.Konsekuensi-konsekuensi jangka panjang lebih dipertimbangkan dalam pemilihan tindakan saat ini.Apabila pencapaian tujuan terhambat, ia mampu secara aktif menemukan jalan keluar, menyingkirkan hambatan.Apabila aktivitas pencapaian tujuan terhambat, ia tidak menjadi sedemikian emosional hingga melakukan hal-hal yang tidak terorganisasi (lepas kendali).Mampu mengintegrasikan usaha-usahanya sehingga selaras dari waktu ke waktu.Mampu berkonsentrasi, mengabaikan stimulus yang tidak relevan dengan tujuan, dan memaksimalkan masukan informasi (dari lingkungan dan dari memori) yang diperlukan untuk melaksanakan rencana-rencana yang telah disusun.

sumber: MM Nilam Widyarini M.Si Kandidat Doktor Psikologi