Minyak Gosok cap Tawon Asli

Minyak Gosok Cap Tawon adalah produk obat-obatan yang wajib dimiliki oleh keluarga. Minyak Gosok cap Tawon diproduksi oleh PT. Tawon Jaya Makassar sejak tahun 1912 di Makassar.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Pengalaman Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Pribadi. Show all posts

Monday, January 19, 2009

Bersakit-Sakit Dahulu Bersenang-Senang Kemudian

Prinsip bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian ini banyak sekali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari manusia, itu sama dengan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Sama halnya waktu muda bekerja keras, tua tinggal menikmati hasilnya. Begitu juga dengan membesarkan, mendidik anak dengan susah payah yang jika dilakukan dengan benar, maka kalau besar nanti, anak tersebut akan menjadi anak yang saleh dan berguna.

Melalui artikel ini, saya ingin berbagi kesusahan (pasti tak ada yang mau baca). Tapi tunggu dulu,


Berbicara mengenai susah senang, dan beban hidup, saat ini saya tidak merasakan sesuatu yang berat untuk saya jalani dalam hidup ini. Beberapa waktu lalu, saya ke sana ke mari mencari perkerjaan namun tak ada lowongan untuk saya, tak ada yang sesuai dengan disiplin ilmu saya, tak ada yang sesuai dengan titel saya, dan yang paling menyedihkan, tak ada skill yang benar-benar bisa diandalkan untuk sebuah perusahaan. Itu semua tidak saya anggap beban hidup yang begitu berat, karena saya punya prinsip. Tuhan akan selalu menyayangi saya. Tuhan tak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tak bisa dipikulnya.

Seingat saya, Saat-saat terberat dalam hidup saya ada tiga. Yang pertama, ketika saya masih kuliah, saya dikirimi surat dari kakak saya bahwa keluarga tak mampu lagi membiayai kuliah saya dan saya disuruh pulang kampung menjadi petani. Saat kedua yang terberat, yaitu kira-kira tahun 2003, ketika kakak saya sebagai satu-satunya tulang punggung dalam keluarga jatuh sakit dan perlu dampingan. Waktu itu, saya bekerja di sebuah perusahaan riset marketing. Saya minta izin untuk cuti, tapi oleh seseorang yang ingin menjatuhkan saya mengatakan kepada manager saya bahwa saya tak mau lagi ke kantor, padahal kebetulan waktu itu saya dicalonkan untuk mengikuti workshop di Jakarta untuk kenaikan posisi. Sementara orang itu, yang merupakan salah seorang team leader saya mengatakan pada saya bahwa perusahaan mengalami kekacauan keuangan dan mungkin akan bubar. Saya seakan-akan diberitahu "Tak usah lagi ke kantor". Sayapun kehilangan pekerjaan.
Saat ketiga paling berat, sewaktu istri saya mengalami masa-masa kritis menjelang melahirkan putri pertama saya, hingga anak saya di hari ke tujuh pusatnya mengalami pembusukan (bernanah), masa-masa kurang tidur, bahagia dan cemas bercampur baur.
Itulah tiga masa-masa paling berat yang pernah saya alami dalam hidup ini.

Setiap kali saya menghadapi sesuatu yang susah sekali untuk dijalani dan bahkan sampai makan hati, saya hanya tabah menjalaninya. Saya tidak akan stop. Pantang menyerah. Saya teringat pesan supervisor saya ketika saya masih kerja di marketing riset, door to door untuk interview, di Makassar ini kebanyakan kami tidak diterima dengan baik oleh responden, bahkan sering kami ditutupkan pintu atau diberi kata-kata yang tidak menyenangkan. Supervisor saya bilang, jangan diambil hati, anggap saja mereka itu sapi. Maksudnya, anggap saja kata-kata itu keluar bukan dari mulut manusia. Yang jelas, apapun yang kita hadapi, hadapi dengan sabar, dan tekun. Saya yakin kita akan melewati semuanya.

Kalau kita sudah melewati masa-masa sulit itu, maka prinsip bersusah dahulu bersenang-senang kemudian akan kita rasakan. Siapa pun yang melewati rasa sulit ibaratnya memikul beban berat tiba-tiba ada kendaraan yang mengangkutnya. Kalau saya melewati masa-masa sulit itu, saya selalu bersyukur pada Tuhan, dan semakin mendekatkan diri saya kepada-Nya, karena semua itu kita lewati atas kehendak-Nya.

Yang bisa membuat saya bertahan ketika mengalami kesulitan, yaitu karena saya yakin itulah jalan yang digariskan Tuhan buatku, yang harus saya tempuh, harus saya lewati. Itu adalah kenyataan hidup. Kita tak bisa lari dari kenyataan. Kesusahan merupakan batu ujian bagi kita. Nabi-nabi saja kan mengalami kesusahan. Dunia ini adalah tempatnya kesusahan. Siapa yang tidak mau susah, tidak usah tinggal di dunia ini. He2x...
Apabila kita tabah menjalani segala kesusahan dan kesulitan hidup di dunia, maka kesenangan akan menanti kita di akhirat kelak.

Semoga opini ini dapat menjadi spirit bagi kita semua.

(Artikel ini dibuat sesuai dengan program Spirit Campaign yang pernah disiarkan di CVC)

Friday, October 17, 2008

Budaya Antri

Artikel ini saya tulis berhubung kejadian tadi pagi. Seorang pelanggan datang beli pulsa, sementara saya layani datang lagi pelanggan lain dengan terburu-buru hendak beli alat tulis. Selesai saya tembakkan pulsanya, tiba-tiba saya lupa, apakah uang pecahan Rp. 50.000, yang diletakkan oleh pelanggan pulsa tadi sudah saya ambil atau tidak, perasaan 90% saya belum mengambilnya, sementara sudah tidak ada di atas meja. Subhanallah...Manusia tidak pernah luput dari kekhilafan.
Lanjut cerita,

antara saya dan pelangganpun terjadi kesalahpahaman, saya mengira uang tersebut diambil kembali dan pelanggan merasa dituduh. Seandainya saja pelanggan mau bersumpah dengan nama Allah, saya pasti merasa tenang. Tapi dia tidak mau bersumpah, justru tersinggung karena merasa dirinya dilukai perasaannya. DITUDUH!
Akhir cerita, pelangganpun pergi dengan membawa uang kembalian yang saya berikan.

Tak lama kemudian, saya kirim sms:
"mohon maaf kalau saya yang salah.Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa.Manusia tempatnya kekhilafan.Sekali lagi mohon maaf beribu maaf".
Menunggu beberapa menit, sayapun menelpon minta maaf.
Selang beberapa menit kemudian, balasan smsnya pun datang:
+6281355724xxx: "Pak, sY tdk PermasalahKan ji kalau Maslah Uangnya,
Cuman, yg jAdi masalah ialah PerasaAn. Smua mAnusia kan pux prasaAn..!
MaAf klu uang yg bApak kasi tadi sy Ambil, krN kalau tidak...brArti sY berSalah. & sy dtg dari jauH k Makassar PAK, bukan u/ CaRI Masalah, tpi u/ msa dpan.
Pak, entah esok a/ kapapun ada yg bermasalah. Bapak bsa cAri sy d blaKang rmh bApak. D pondok P kamar paling ujung..!
Atas nama A. dri Pinrang"

Saya balas:
"Sekali lagi minta maaf kalau perasaan adik terluka.Saya tahu,pasti saya juga akan merasakan hal yg sama ketika mengalami hal seperti itu.
Bagi saya tak ada lagi masalah..Mungkin karena pembeli (ibu) tadi membuat saya jadi lupa.Mestinya ibu tadi bersabar menunggu antrian. Saya hanya manusia biasa yg tak luput dari kekhilafan."

sampai hari ini selesai cerita, mudah-mudahan tak ada kelanjutan yang negatif.

Saya sangat menyayangkan ibu-ibu yang datang tadi langsung minta dilayani sementara masih ada pelanggan lain yang melakukan transaksi. Di Makassar sini banyak sekali orang seperti itu, tidak sabaran, dan tak tahu budaya antri. Kebiasaan seperti inilah yang biasa membuat penjual menjadi bingung. Kadang kalau tidak dilayani mereka ngomel-ngomel, atau ada juga yang langsung pergi begitu saja. Ya, serba salah jadinya, padahal kita ini juga butuh pelanggan. Karena kalau tak ada pelanggan, dari mana kita mau dapat makan?

Kejadian ini mengingatkan saya sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku kuliah. Waktu itu, saya kehabisan uang, tengah hari saya pergi ke ATM, saya lihat di depan ATM ada lima orang antrian, sayapun masuk antrian ke enam.
Tiba giliran saya, tiba-tiba masuk seorang yang berbadan besar (waktu itu saya masih kurus), memaksa saya keluar dan mengatakan: "kita juga sama-sama punya urusan penting. Bukan cuma kamu saja yang buru-buru! Keluar!" sambil menarik saya, yang kemudian dilerai oleh temannya.
Wah.... Ternyata lelaki berbadan besar bersama temannya tadi antrian ke-6, lebih duluan datang dari saya, cuma dia berteduh di bawah pohon sana, jadi saya tidak tahu kalau ternyata ada orang lebih duluan datang dari saya. Begitukah yang namanya antrian? Antrian dengan pandangan mata sambil asyik-asyik berteduh, sementara kita kepanasan. Kita juga manusia punya perasaan..!

Ya, budaya antri sepertinya tidak berlaku bagi sebagian besar orang (di Makassar), lihat saja di depan mesin ATM atau di mana saja yang antriannya tidak menggunakan nomor antrian.
Padahal kalau dipikir, orang lain juga pasti punya urusan penting, dan kalau merasa sangat penting, mengapa tidak datang secepatnya.

Pesan saya, marilah kita biasakan diri dengan budaya antri, sebagai manusia yang beradab dan tertib. Main serobot bisa merugikan orang lain atau mungkin juga diri kita sendiri.

Bagi anda yang punya profesi seperti saya, usahakan melayani pelanggan yang lebih dulu datang, bukan yang lebih kuat, besar dan ngotot. Meskipun sebenarnya kita yang butuh pelanggan dan telah berusaha melakukan pelayanan yang lebih baik.

Semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Monday, September 08, 2008

Buka Puasa Bersama Blogger Angingmammiri dan Kecelakaan

Sebenarnya, saya ingin menulis artikel yang berjudul Ramadhan dan Kebebasan, tapi karena terjadi kecelakaan, maka saya "terpaksa" menulis artikel ini. Terpaksa, karena saya merasa tadinya artikel ini tidak perlu ditulis, menjadi perlu. Karena sejak kejadian itu hingga artikel ini saya tulis, nafas saya seperti masih beku dan saya masih gemetar.

Kemarin siang, saya menghadiri undangan dari Angingmammiri.org untuk Buka Puasa bersama di Food Court Mall Ratu Indah Lt.3, yang dihadiri oleh sekitar belasan orang, yang diakhiri dengan rapat kecil-kecilan mengenai rencana kunjungan ke panti asuhan. Acara ini berakhir pukul 20.45 WITA.
Sepulang dari acara, saya singgah beli alat tulis dan kemudian kembali ke rumah. Sampai di rumah, langsung ke kamar mendengarkan Radio Jepang NHK World hingga pukul 22.00 WITA, kemudian turun ke warung untuk menghitung uang penjualan pulsa hari itu.
Karena kami sekeluarga belum tidur, termasuk anak saya Rahima masih asyik berlari-larian dan minta digendong. Saya gendong, capek menggendong, saya naikkan ke pundak saya sambil melayani pembeli.
Tiba-tiba Rahima meronta ketika saya hendak mengambil belanjaan, tangan saya terlepas, dan Rahima jatuh seperti batang pisang yang tumbang, Saya masih sempat menangkap kakinya, tapi praaak...!, kepalanya menghantam lantai. Terlambat!
Istri saya langsung melompat dari kursi, menangkap Rahima yang masih sempat saya tahan kakinya. Istriku menjerit dan menangis histeris sambil memeluk Rahima erat-erat, ipar saya pun lari keluar dan histeris, disusul mertua saya dan seisi rumah.
"itu berdarah telinganya!"
"mana?, tidak ada darah" kataku.
Istriku melepas pelukannya. Kami segera memeriksa dan menanyakan apanya yang sakit, tapi Rahima tidak menunjuk apa-apa, padahal biasanya kalau dia jatuh, pasti menunjuk sesuatu yang sakit.
Alhamdulillah, anak saya tidak apa-apa.
Saya tidak yakin anak saya selamat, dengan melihat posisi jatuh dan tingginya pundak saya.
Sungguh Allah masih menyayangi kami.

Saya sadar dalam kehidupan ini, seringkali terjadi hal-hal di luar akal manusia. Dan kejadian seperti itu mestinya makin mendekatkan diri kita pada Allah SWT.

Mudah-mudahan anak saya tidak apa-apa. Doakan ya.

Friday, July 11, 2008

Sosialisasi Mitra Penjualan Telepon Rumah dan Speedy

Tanggal 10 Juli 2008, saya menghadiri sosialisasi mitra penjualan telepon rumah dan Speedy di Ruang Rapat Sales Fixed Phone Kandatel Makassar jam 10.00 WITA.
Memperhatikan bisnis wartel yang cenderung menurun, maka sebagai upaya untuk mengembalikan dan meningkatkan pendapatan yaitu dengan membuka peluang bisnis baru yang berkaitan dengan telekomunikasi, maka PT. Telkom Kandatel Makassar menawarkan kepada para pengelola Wartel yang ada di Makassar untuk bekerja sama dalam penjualan telepon rumah dan Speedy.

Dalam acara sosialisasi tersebut, ada beberapa pengelola wartel yang datang, antara lain dari Daya, Antang, Ir. Sutami, termasuk saya yang mewakili Wartel UD. Al-Kahfi yang nantinya akan menjadi Agen Resmi Penjualan Telepon Rumah dan Speedy untuk wilayah Batua dan sekitarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan mengenai beberapa poin kesepakatan, juga penjelasan singkat mengenai produk yang akan dipasarkan dan bagaimana teknisnya.

Dengan adanya penawaran ini, merupakan angin segar bagi pengelola wartel yang telah mengalami kemerosotan pendapatan seiring dengan kemajuan teknologi telekomunikasi terutama telepon genggam ditambah lagi dengan perang tarif antar operator seluler, sehingga biaya telepon seluler menjadi lebih murah dan terjangkau.
Tahun 2006 lalu, waktu saya mulai ikut mengelola wartel UD. Al-Kahfi, saya perhatikan, pada pertengahan 2006, jumlah tagihan wartel mencapai 2 jutaan rupiah, setahun kemudian tinggal 1 jutaan, dan kemarin saya bayar tinggal 600-an ribu rupiah. Betul-betul terpuruk sudah. Wartel tak dapat lagi dijadikan mata pencaharian pokok, apalagi kalau menanggung beberapa anggota keluarga yang masih sekolah.

Usai acara, kami bersalaman dan sepakat untuk mengadakan lagi pembicaran lebih lanjut dan menandatangani nota kesepahaman (MoU).
Sebenarnya, saya rencana langsung pulang ke rumah, tapi karena tadi waktu saya baru datang di Telkom, saya melihat ada pengumuman Flexter Blogging 2008, maka sehabis makan siang dan shalat lohor, saya langsung ke warnet langganan saya. Sesampai di warnet, saya langsung membukan www.telkomflexi.com dan www.myflexiland.com kemudian mendaftar sebagai user. Namun, belum lagi selesai mendaftar, istri saya menelpon "Ayah dimana? Kenapa belum pulang?" Saya jawab "Saya masih di kantor pajak nih, ntar lagi, masih antrian".
Wah, saya jadi diburu waktu nih.
Usai mendaftar sebagai Gold Flexter, saya coba bikin postingan, tapi waduh, baru mau dipikir, belum lagi karena saya baru belajar ngeblog 2 bulan lalu. Habis ngeposting, lha kok postingan saya belum tampil di blog? Ternyata sub domainnya belum didaftar. Baru cari judul yang pas untuk blog, tiba-tiba hp berdering lagi, "Ayah, kapan pulang? Kita mau pergi jenguk adik nih" (kebetulan adik ipar saya baru masuk di pesantren). Wah, akhirnya blog saya terdaftar dan hanya judulnya saja: "Ketika Mulut Tak Mampu Lagi Berucap".
Betul-betul tak hanya dibungkam, tapi tangan pun terbelenggu.
Bagaimana ya jika orang mengunjungi blog saya tanpa postingan apa-apa? Soalnya kapan lagi ke warnet. Tertundalah ikut Flexter Blogging....

Thursday, June 26, 2008

Pedagang K5 Berhati Mulia

Tadi malam, habis shalat Maghrib, saya bersama istri dan anak saya Rahima pergi ke MTC Karebosi. Ke sana naik angkot, dalam perjalanan Rahima mabuk dan muntah-muntah. Sayang sekali kami lupa membawa sarung kecil dan kantong plastik, hanya selembar sapu tangan, sehingga muntahan tersebut mengotori mobil angkot.
Sesampai di MTC, kami turun dan langsung menuju ke salah satu pedagang kaki lima yang ada di depan Bank Mandiri karena sapu tangan yang kami bawa penuh dengan muntah.
Saya menghampiri seorang tua dan bertanya, "saya mau beli kantong plastiknya Rp.500, pak".
Pak tua: "kantong plastik apa Pak?Tidak ada".
"itu Pak!" sambil saya tunjuk ke arah kantong plastik yang digantung.
"Oh itu tak dijual Pak" katanya.
"Biar, saya beli saja Pak, berapa aja dikasih" kataku.
"Tak usah dibeli Pak, ambil saja kalau memang dibutuhkan" sambil mencabut kantong plastik "berapa kita butuh Pak, dua atau tiga?" tanyanya.
"Berapa-berapa Pak, saya beli saja" kataku lagi.
"Tak usah Pak, ini memang untuk dipakai, ambil saja"
"Tapi ini dibeli juga kan?"
"Ambil saja Pak, tak usah dibayar"
"Kalau begitu terima kasih banyak Pak"

Tak kusangka di sentral dan di zaman seperti sekarang ini, masih ada pedagang kaki lima sebaik itu. Selama saya tinggal di Makassar ini, barusan saya menemukan pedagang kaki lima sebaik itu, apalagi di sentral. Yang banyak, justru penjual yang menjual barang-barang jauh di atas harga sebenarnya. Dulu, jangan berani makan di sentral tanpa bertanya terlebih dahulu, berapa harganya, karena kalau tidak, anda bisa ditagih pembayaran berlipat-lipat. Saat sekarang ini banyak pedagang menjual barang dagangannya yang keuntungannya melebihi 30%, apalagi kalau calon pembeli bukan langganan atau kelihatan banyak uang dan tak tahu menawar, bisa-bisa jadi korban.
Zaman sudah berubah, Ketidakjujuran dalam menjual, menimbang dan sebagainya, telah menjadi kebiasaan buruk yang memperpuruk suatu negeri. Belum lagi makin sulitnya mencukupi kebutuhan hidup, sehingga manusia telah menghalalkan segala macam cara, bagi mereka yang punya jiwa dagang, apa saja dijual asal bisa dijadikan uang. Apalagi di kota, sedangkan kotoran hewan bisa dijual dan laku. Pokoknya semua bisa jadi uang, termasuk menjual harga diri alias melacur, dan bisnis atau perdagangan perempuan menjadi bisnis yang trend dan bergengsi yang bisa mengalirkan uang dengan begitu cepat, namun cepat pula terkubur karena tanah longsor atau gempa bumi, terendam atau hanyut oleh banjir bandang, atau dilahap api, atau mungkin terbang bersama tornado atau topan atau siklon.

Wah, terlalu jauh saya ngelantur. Doaku, semoga sang Bapak tua itu memperoleh rejeki yang melimpah dan diberkahi.....

Tuesday, June 24, 2008

Kode Voucher isi ulang pulsa tak dikenal.

Tanggal 22 Juni 2008 malam, seorang pelanggan saya membeli voucher isi ulang Rp. 10.000. Tak lama kemudian dia kembali katanya vouchernya tak bisa dipakai. Saya coba cek saldonya dan memasukkan ulang, ternyata memang tak bisa, kalau jawabannya bukan kode voucher tak dikenal, atau tidak terlaksana, atau belum selesai, maka koneksi langsung terputus.
Saya katakan, "Bu, besok pagi aja dicoba, kalau tidak bisa bawa aja kesini vouchernya".

Keesokan paginya Si Ibu pun datang. Saya coba lagi isi pulsanya, namun tetap tidak bisa. Kode voucher tidak berlaku. Akhirnya saya bawa ke Galeri di Jl. SR. Berhubung saya singgah dulu di warnet dan kantor pos sehingga baru tiba di Galeri jam setengah tiga siang.
Sampai di counter. Saya jelaskan duduk perkaranya. Setelah dicek, CS mengatakan bahwa voucher tersebut sudah digunakan sekitar jam satu siang tadi. Saya minta hasil print outnya, tapi katanya tidak bisa diprint out. Dia hanya mencatat nomor hp yang menggunakan kode voucher itu, yaitu 08xx96227689.

Sehubungan dengan kejadian yang saya alami, maka Buat teman-teman yang punya outlet pulsa, sebaiknya jika ada pelanggan yang membeli voucher fisik, dan membawanya pulang, jangan diterima lagi kalau dikembalikan, karena bisa jadi kode voucher tersebut telah dicatat atau dimasukkan ke nomor hp yang lain, sehingga belum sempat dilaporkan, vouchernya sudah dipakai.

Buat operator/vendor GSM, layani outlet dan konsumen anda sebaik-baiknya, apalagi outlet yang membantu menjual barang-barang anda, karena tanpa outlet yang membantu anda, maka tidak ada yang bisa dipakai untuk menggaji anda. Pikirkanlah outlet kecil, kami komplain sebenarnya untuk menutupi kerugian, yang sebenarnya sudah rugi karena biaya transport saja berapa, sementara keuntungan menjual pulsa/voucher palingan Rp. 1000, jadi kalau ada komplain yang tak bisa diatasi, ya rugilah. Misalnya saja, masa print out saja tidak bisa dilakukan, jadi kami tidak ada tanda bukti untuk menagih jika voucher tersebut telah digunakan. Selain kerugian fisik, hal tersebut bisa juga berdampak pada berkurangnya pelanggan, karena kita dianggap tidak profesional.

Friday, June 06, 2008

Telepon Berhadiah

Kemarin siang mertua saya menerima telepon dari perusahaan Indo ... Katanya: "Nomor telepon Ibu terpilih untuk mendapatkan hadiah. Hadiah sudah ditanggung semua biaya administrasinya. Tak dipungut lagi bayaran. Silahkan Ibu datang ambil di Jl. Mallengkeri ...hari ini juga. Ditunggu sampai jam 2 siang".

Karena penasaran, saya telepon balik.

Saya: "Halo, tadi ada yang nelpon ke sini atas nama...Katanya Ibu saya terima hadiah. Kalau boleh tahu, hadiah apa sih Bu? Kenapa bisa dapat hadiah? Ini perusahaan yang bergerak di bidang apa?"

Penerima telpon: "Begini Pak, kami sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan. Kebetulan hari ini Grand Opening perusahaan kami. Kami mengadakan syukuran dan mengundang 100 kepala keluarga untuk menerima hadiah dari sponsor kami, LG, samsung, dll. Hadiahnya kurang tahu karena ini hanya bagian informasi. Hadiah ditentukan oleh sponsor. Bla...Bla...bla..."

kami pun berembuk. Akhirnya kami sepakati sekeluarga datang ke sana. Ada apa sih di sana. Sekalian pulang nanti bisa singgah di Mall.

Sampai di depan bangunan yang dimaksud. Tertulis "Electronic Centre". Wah, kami sudah yakin yang akan terjadi...

Masuk di dalam, disambut dengan baik. Setelah dicek nomor telepon dan KTP, dilanjutkan dengan Persentasi alat-alat kesehatan hingga kurang lebih 45 menit.

Mana hadiahnya?

Hadiah tertulis dalam amplop yang disegel rapi. Kita sendiri yang pilih amplopnya.
Setelah amplop dibuka:
Hadiahnya:
1 buah jam dinding dan voucher belanja 1 juta rupiah.
Wah, semua petugas memberi ucapan selamat.

Petugas menjelaskan: "voucher belanja berlaku 6 bulan. Tapi kalau voucher belanja digunakan sekarang, maka ada tambahan hadiah yang tersembunyi di balik panel gosok. Bapak boleh tahu apa hadiahnya kalau Bapak membeli sekarang".

Hadiah yang tersembunyi di panel gosok pun saya gosok.
Hadiahnya ada empat:
1. Microwave.
2. Jok mobil kesehatan.
3. Terapi pijat kaki, dan
4. Penyaring air.
Jadi jika voucher belanja digunakan sekarang, atau kasarnya, kalau beli sekarang, maka beli 1 dapat 5. Yang harga tiap item barang 5 juta rupiah.

Semua petugas memberi ucapan selamat.
Singkat cerita, beginilah akhirnya.
Setelah berbagai macam propoganda, sayapun menjawab:
Saya: "Pak. Saya kalau berbelanja, punya skala prioritas. Barang-barangnya bagus, tapi untuk saat sekarang saya belum terlalu membutuhkan. Seandainya ada list barang yang saya butuhkan saat ini tersedia, mungkin saya beli. Jadi maaf saja, saya tak akan menyesal kalau saya membatalkan hadiah itu".

Setelah pamitan dengan jabat tangan, saya pun pulang dengan membawa jam dinding.

Dari cerita singkat di atas, menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa jangan langsung percaya jika anda menerima telepon bahwa anda mendapatkan hadiah dari ini dan itu. Pastikan dan selidiki lebih jauh. Apakah memang anda pernah mengikuti undian berhadiah, dsb? Kalaupun pernah, konfirmasi ke kantor pusatnya, bukan ke orang yang bersangkutan. Oke...
Penipuan via telepon banyak sekali motifnya yang tak bisa disebutkan satu persatu.