Minyak Gosok cap Tawon Asli

Minyak Gosok Cap Tawon adalah produk obat-obatan yang wajib dimiliki oleh keluarga. Minyak Gosok cap Tawon diproduksi oleh PT. Tawon Jaya Makassar sejak tahun 1912 di Makassar.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Sunday, August 23, 2009

Antara HUT Negriku, Kebudayaan dan Kesenian Tradisional

Oleh: Susi-Cikampek

Belum lama berselang, Negriku tercinta, Republik Indonesia berulang tahun yang ke-64, yaitu pada tanggal 17 Agustus 2009. Dan setiap perayaan HUT RI atau setiap 17 Agustus, selalu diwarnai berbagai lomba, yang bersifat permainan sampai pertandingan olah raga.. Juga panggung hiburan. Seperti foto-foto yang mengiringi tulisan ini adalah lomba-lomba permainan anak-anak, mengambil uang logam dalam pepaya yg diolèsi oli dan juga panjat bambu, pengganti pohon pinang.

Namun untuk panggung hiburan, sebetulnya cukup menyedihkan. "Panggung Hiburan tapi menyedihkan?!" Bagaimana tidak?!
Kebudayaan & Kesenian yang ditampilkan, sekarang rata-rata BUKAN YANG TRADISIONAL & MILIK BANGSA SENDIRI. Bahkan anak-anak muda & pelajar dari SD sampai SLA sekarangpun sangat minim yang mengenal, apalagi hafal lagu-lagu nasional. Sangat memprihatinkan. Perayaan HUT negeri tercinta tapi tidak mencerminkan rasa cinta kebudayaan & kesenian negeri sendiri?! Tarian2 modern dengan pakaian yang...nym..nym..nym.., menggiurkan telah menggèsèr tari-tari tradisinal yang di dalamnya sarat makna. Justru banyak orang asing yang tertarik, terpesona, mempelajari bahkan mementaskan tari-tari klasik maupun tari-tari tradisional Indonesia. Jadi, kenapa pemerintah & masyarakat berang bin marah ketika ada negara yg mengakui kesenian atau tari tradisional Indonesia sebagai kesenian mereka?! Ya dikiranya kesenian atau tari tradisional tersebut sudah ga kepakai, jadi daripada mubadzir ya disurut alias diambil aja to?! Kalau saya marah ya wajar,wong saya ini ikut melestarikan tari tradisional kok?! Buktinya, meski dengan keterbatasan kesehatan & dana, saya tetap menjadi guru tari & berusaha memperkenalkan tari-tari Jawa di tanah perantauan pasundan, dengan awalnya menanamkan minat anak-anak di sebuah sekolah dan Alhamdulillah cukup mendapat sambutan yang baik, tanpa dibatasi rasa kesukuan, karena mereka ada yang keturunan Jawa, Sunda, Betawi, bahkan Medan. Tak dipungkiri, pada awalnya jelas ada yang berusaha mematahkan usaha saya tersebut. Itulah perjuangan. Sekarang malah ada yang lès tari-tari tersebut. Biaya, saya tak menentukan tarif, bahkan khusus minggu pagi ,gratis, karena yang utama bagi saya, MEMPERKENALKAN & MENGEMBANGKAN TARI TRADISIONAL PADA ANAK-ANAK agar tidak terlupakan.

Tari Merak Ngigel

Pakaian & perlengkapan tarinya, walau hasil kreasi & modifikasi saya sendiri karena terbentur dana, ternyata tetap membuat anak-anak maupun orang-orang dewasa yang melihat & menikmati pementasan tari saya untuk acara-acara sekolah & perayaan 17 Agustus-an, pesta perkawinan atau panggung hiburan lain baik di Cikampek sendiri, di Bekasi maupun di Jakarta, banyak yang terpesona & terkesan. Andai saja, andai ah, ah, ah, andai aku punya dana..na.,na. (Ikutan lagunya Oppie Andarésta ya?!) Hé.hé.hé.

Friday, October 17, 2008

Budaya Antri

Artikel ini saya tulis berhubung kejadian tadi pagi. Seorang pelanggan datang beli pulsa, sementara saya layani datang lagi pelanggan lain dengan terburu-buru hendak beli alat tulis. Selesai saya tembakkan pulsanya, tiba-tiba saya lupa, apakah uang pecahan Rp. 50.000, yang diletakkan oleh pelanggan pulsa tadi sudah saya ambil atau tidak, perasaan 90% saya belum mengambilnya, sementara sudah tidak ada di atas meja. Subhanallah...Manusia tidak pernah luput dari kekhilafan.
Lanjut cerita,

antara saya dan pelangganpun terjadi kesalahpahaman, saya mengira uang tersebut diambil kembali dan pelanggan merasa dituduh. Seandainya saja pelanggan mau bersumpah dengan nama Allah, saya pasti merasa tenang. Tapi dia tidak mau bersumpah, justru tersinggung karena merasa dirinya dilukai perasaannya. DITUDUH!
Akhir cerita, pelangganpun pergi dengan membawa uang kembalian yang saya berikan.

Tak lama kemudian, saya kirim sms:
"mohon maaf kalau saya yang salah.Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa.Manusia tempatnya kekhilafan.Sekali lagi mohon maaf beribu maaf".
Menunggu beberapa menit, sayapun menelpon minta maaf.
Selang beberapa menit kemudian, balasan smsnya pun datang:
+6281355724xxx: "Pak, sY tdk PermasalahKan ji kalau Maslah Uangnya,
Cuman, yg jAdi masalah ialah PerasaAn. Smua mAnusia kan pux prasaAn..!
MaAf klu uang yg bApak kasi tadi sy Ambil, krN kalau tidak...brArti sY berSalah. & sy dtg dari jauH k Makassar PAK, bukan u/ CaRI Masalah, tpi u/ msa dpan.
Pak, entah esok a/ kapapun ada yg bermasalah. Bapak bsa cAri sy d blaKang rmh bApak. D pondok P kamar paling ujung..!
Atas nama A. dri Pinrang"

Saya balas:
"Sekali lagi minta maaf kalau perasaan adik terluka.Saya tahu,pasti saya juga akan merasakan hal yg sama ketika mengalami hal seperti itu.
Bagi saya tak ada lagi masalah..Mungkin karena pembeli (ibu) tadi membuat saya jadi lupa.Mestinya ibu tadi bersabar menunggu antrian. Saya hanya manusia biasa yg tak luput dari kekhilafan."

sampai hari ini selesai cerita, mudah-mudahan tak ada kelanjutan yang negatif.

Saya sangat menyayangkan ibu-ibu yang datang tadi langsung minta dilayani sementara masih ada pelanggan lain yang melakukan transaksi. Di Makassar sini banyak sekali orang seperti itu, tidak sabaran, dan tak tahu budaya antri. Kebiasaan seperti inilah yang biasa membuat penjual menjadi bingung. Kadang kalau tidak dilayani mereka ngomel-ngomel, atau ada juga yang langsung pergi begitu saja. Ya, serba salah jadinya, padahal kita ini juga butuh pelanggan. Karena kalau tak ada pelanggan, dari mana kita mau dapat makan?

Kejadian ini mengingatkan saya sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku kuliah. Waktu itu, saya kehabisan uang, tengah hari saya pergi ke ATM, saya lihat di depan ATM ada lima orang antrian, sayapun masuk antrian ke enam.
Tiba giliran saya, tiba-tiba masuk seorang yang berbadan besar (waktu itu saya masih kurus), memaksa saya keluar dan mengatakan: "kita juga sama-sama punya urusan penting. Bukan cuma kamu saja yang buru-buru! Keluar!" sambil menarik saya, yang kemudian dilerai oleh temannya.
Wah.... Ternyata lelaki berbadan besar bersama temannya tadi antrian ke-6, lebih duluan datang dari saya, cuma dia berteduh di bawah pohon sana, jadi saya tidak tahu kalau ternyata ada orang lebih duluan datang dari saya. Begitukah yang namanya antrian? Antrian dengan pandangan mata sambil asyik-asyik berteduh, sementara kita kepanasan. Kita juga manusia punya perasaan..!

Ya, budaya antri sepertinya tidak berlaku bagi sebagian besar orang (di Makassar), lihat saja di depan mesin ATM atau di mana saja yang antriannya tidak menggunakan nomor antrian.
Padahal kalau dipikir, orang lain juga pasti punya urusan penting, dan kalau merasa sangat penting, mengapa tidak datang secepatnya.

Pesan saya, marilah kita biasakan diri dengan budaya antri, sebagai manusia yang beradab dan tertib. Main serobot bisa merugikan orang lain atau mungkin juga diri kita sendiri.

Bagi anda yang punya profesi seperti saya, usahakan melayani pelanggan yang lebih dulu datang, bukan yang lebih kuat, besar dan ngotot. Meskipun sebenarnya kita yang butuh pelanggan dan telah berusaha melakukan pelayanan yang lebih baik.

Semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Saturday, August 23, 2008

Mengenang Sejarah

Bulan ini merupakan HUT Republik Indonesia yang ke-63. Berbagai kegiatan yang dilakukan guna menyemarakkan suasana ini. Tak ketinggalan Komunitas Blogger Makassar, Angingmammiri.org, juga mengadakan acara yang bertema "Blogger Peduli Sejarah" yang bertujuan mengenang kembali sejarah masa silam Butta Mangkasara ini, selain itu menjadi ajang untuk membina keakraban antar sesama Blogger yang berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda.

Tempat-tempat bersejarah yang kami kunjungi antara lain Museum Kota Makassar, Museum Karaeng Pattingaloang di Benteng Somba Opu, dan Museum La Galigo di Fort Rotterdam.


Kami berkumpul di Museum Kota Makassar jam 08.30 WITA dan memasuki museum sekitar jam 09.00 WITA dengan didampingi oleh 2 orang pemandu.
Museum Kota Makassar letaknya di Jl. Balai Kota No. 11 Makassar, dibangun pada masa kolonial Belanda, menempati gedung Balai Kota lama.
Isi Museum Kota Makassar ini bisa dikatakan cukup lengkap, antara lain Meriam dan Bola Meriam yang merupakan alat persenjataan populer pada masa penjajahan Belanda, Peta Bumi termasuk peta Benteng-Benteng yang ada di Makassar, Patung dan Relief potret seperti Patung dan Relief Ratu Wilhelmina, peninggalan masa lalu berupa benda untuk keperluan sehari-hari termasuk alat pembayaran, guci-guci dari berbagai negara, juga ada foto-foto peristiwa dan bangunan bersejarah, TVRI Memorial, PDAM Memorial, dan masih banyak lagi dokumen, arsip dan cagar budaya yang menjadi sejarah Makassar dan Sulawesi Selatan.
Puas berkeliling, kami lanjutkan dengan permainan lempar bola ke sesama Blogger agar saling mengenal.

Patung Wilhelmina

Mesjid Raya tahun 1949

Pantai Losari tahun 1953

TVRI Memorial

Sekitar jam 11.00 WITA, kami pun berangkat menuju Benteng Somba Opu di selatan Kota Makassar. Di sana ada Museum Karaeng Pattingaloang. Usai makan siang dan shalat lohor, kamipun memasuki museum tanpa pemandu, berhubung pemandunya tidak datang karena ada keluarganya yang meninggal. Sayang sekali di museum ini koleksinya tidak lengkap. Apalagi koleksi yang ada tidak ada keterangannya, sehingga kami tak dapat memberikan gambaran apa yang ada di sana, kecuali meriam yang ada di depan museum, peta Benteng Somba Opu jaman dahulu yang bisa dilihat dengan pantulan cermin, batu berhias, dan beberapa koleksi lainnya.
Di Benteng Somba Opu yang luasnya sekitar 2 Kilometer persegi, kami juga mengunjungi sisa-sisa dinding benteng yang telah terkubur selama ratusan tahun, dan di sudut atas benteng ada kuburan keluarga kerajaan.
Puas berkeliling, kami lanjutkan dengan permainan acak kata yang cukup meriah dan menambah keakraban sesama Blogger.

Bagian Dalam Museum Karaeng Pattingaloang

Benteng Somba Opu

Sekitar jam 16.00 WITA, kamipun meluncur kembali ke arah ujung Utara kota. Ke Fort Rotterdam, dimana di sana terdapat Museum Lagaligo.
Museum Lagaligo ini juga lengkap koleksinya. Mulai dari fosil tumbuhan sampai fosil manusia purba, peralatan-peralatan manusia jaman dahulu, seperti berburu, bertani, saringan air, dan sebagainya. Perlengkapan perang masa kerajaan, pakaian adat berbagai suku, lukisan dan foto-foto pahlawan dan ulama, berbagai macam angkutan laut, dan perlengkapan nelayan yang menjadi ciri khas suku Bugis Makassar sebagai pelaut ulung, juga ada angkutan tradisional yaitu Bendi, sepeda, alat-alat pertenunan sampai kain-kain khas dan pakaian adat, pengantin dan lain sebagainya. Di Benteng Somba Opu juga ada ruang tahanan Pangeran Diponegoro. Yang jelas, banyak sekali peninggalan sejarah yang tidak bisa disebutkan dan dijelaskan satu persatu. Sayangnya, ada satu koleksi yang hilang di Museum ini, yaitu silsilah kerajaan Gowa, dan sayangnya, silsilah kerajaan Bone dikunci rapat-rapat di dalam ruangan khusus koleksi kerajaan Bone.

Fort Rotterdam

Museum La Galigo

Perahu Phinisi

Pesan saya, sebaiknya anda berkunjung ke ketiga tempat bersejarah tersebut agar bisa melihat secara langsung dan mendapatkan penjelasan yang lebih rinci dari pemandu yang ada di sana, sehingga anda bisa lebih mengetahui sejarah masa silam tanah ini dan bangsa kita tercinta.

Rangkaian kegiatan ini sangat saya sukai, disamping berkenalan sesama Blogger yang selama ini bertemunya lewat dunia maya, juga kita mengenal dan mengenang kembali sejarah tanah kita ini. Dan satu alasan yang sangat pribadi yang membuat saya sangat tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah ini, yaitu karena penulis berasal dari turunan tiga kerajaan, Gowa, Bone, dan Luwu. Mungkin anda pernah mendengar Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf, La Tenri Ruwa Sultan Adam, dan Sang Legendaris Sawerigading, dan satu lagi tahukah anda di mana kuburan La Galigo?
Mungkin suatu waktu saya akan menulis tentang mereka dan silsilah keturunan mereka. Siapa tahu di antara mereka ada buyut anda, dengan begitu kita ada hubungan tali persaudaraan (meskipun sebenarnya kita semua punya hubungan darah dari Adam dan Hawa).