Minyak Gosok cap Tawon Asli

Minyak Gosok Cap Tawon adalah produk obat-obatan yang wajib dimiliki oleh keluarga. Minyak Gosok cap Tawon diproduksi oleh PT. Tawon Jaya Makassar sejak tahun 1912 di Makassar.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Friday, April 15, 2011

Membasmi Ulat Bulu Tanpa Pestisida

Pakar ekologi Universitas Diponegoro Semarang, Sapto P Putro menilai penggunaan pestisida untuk membasmi ulat bulu yang mewabah di sejumlah daerah akhir-akhir ini tidak tepat. "Penggunaan pestisida sebenarnya justru memberikan efek resistensi ulat bulu dan mencemari lingkungan sekitar," katanya di Semarang, Kamis 14 April 2011, menanggapi merebaknya populasi ulat bulu di sejumlah daerah.

Menurutnya, cara yang paling efektif untuk mengatasi merebaknya populasi ulat bulu yaitu dengan mengontrol populasi binatang itu secara alami, yakni mengembalikan musuh alami ulat bulu ke alam. Semakin berkurangnya populasi hewan yang menjadi pemangsa alami ulat bulu saat ini, seperti burung pemakan serangga dan semut pohon turut mempengaruhi merebaknya populasi ulat bulu.


Populasi semut pohon yang biasa disebut semut 'rangrang' saat ini sudah mulai berkurang, seiring kian banyaknya pengambilan 'kroto' (telur semut pohon) yang dijual untuk pakan burung. Burung pemakan serangga, juga banyak ditangkap untuk dipelihara sehingga berakibat terjadinya ketidakseimbangan dalam ekosistem, karena salah satu rangkaian rantai makanan akan terputus.

Penyebab merebaknya populasi ulat bulu, menurut dosen Fakultas Matematika dan IPA Undip itu, bisa juga karena perubahan iklim, iklim yang tak menentu, yang mempengaruhi perilaku sejumlah spesies hewan.

"Spesies ulat bulu bermacam-macam, dan beberapa spesies ulat bulu yang ditemukan tenyata bukan dari jenis kupu-kupu, seperti yang ditemukan di Probolinggo merupakan larva jenis ngengat dengan nama latin 'Lymantriidae'," katanya. Sejumlah peneliti meyakini bahwa beberapa spesies bukan endemis Indonesia sehingga menguatkan dugaan bahwa faktor iklim memicu bermigrasinya spesies ngengat asing masuk dan bereproduksi di Indonesia. Selain itu, kata Sapto, penggunaan pestisida secara berlebihan bisa membuat hama pemakan tanaman, seperti ulat menjadi resisten atau kebal terhadap jenis pestisida tertentu yang sering digunakan.

"Secara biologi, sebuah spesies selalu memiliki sistem pertahanan, salah satunya penguatan gen terhadap generasi berikutnya, gampangnya bermutasi lebih kuat. Ini membuat spesies bisa kebal terhadap pestisida," katanya. Karena itu, Sapto menyarankan agar penggunaan pestisida yang selama ini banyak ditempuh untuk membasmi populasi ulat bulu yang meningkat jangan dilakukan, melainkan dengan melepas musuh alami mereka ke alam.

Sumber: Republika

Wednesday, April 07, 2010

Facebook dan Google Biang Pemanasan Global

Isu pemanasan global tak pernah berhenti. Kali ini, Facebook dan Google dianggap sebagai biang keladinya. Sementara Yahoo justru dipuji. Apa alasannya?

Kelompok aktivis lingkungan Greenpeace menuduh situs-situs internet seperti Facebook, Apple, Microsoft, dan Google memberikan kontribusi pada pemanasan global.

Alasannya, situs-situs terkemuka itu menggunakan energi dari pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara untuk mendukung operasional pusat data layanan internet mereka.

Pernyataan tersebut terungkap dalam laporan Greenpeace berjudul 'Make IT Green: Cloud Computing and its Contribution to Climate Change'. Melalui laporan tersebut, Greenpeace memperingatkan bahwa pusat data raksasa komputasi awan, termasuk Google, Facebook, Microsoft, Yahoo, dan lainnya sebagian besar mendapat tenaga dari batu bara, faktor pendorong pemanasan global.

Seperti dikutip dari laman PC Advisor, 1 April 2010,
Greenpeace menuduh perusahaan-perusahaan terkemuka itu belum cukup berusaha untuk mengganti sumber energi pusat data. Pasalnya, mereka bisa menggunakan sumber energi alternatif atau setidaknya mendorong dilakukannya perubahan kebijakan.

Sebelum laporan ini dirilis, Greenpeace melontarkan kritik terhadap Facebook karena membeli listrik untuk pusat data custom-built pertama dari perangkat yang menggunakan lebih banyak batu bara dibanding datacenter lainnya di Amerika Serikat.

Datacenter di Prineville, Oregon, tersebut akan membeli sumber energi dari Pacific Power. Greenpeace juga membuat group di Facebook, menuntut agar situs pertemanan itu berhenti menggunakan sumber energi batu bara.

Laporan Greenpeace mengklaim Apple, Facebook, Microsoft, Yahoo, dan Google juga akan membangun pusat data baru yang kembali bergantung pada batu bara. Greenpeace meminta agar perusahaan-perusahaan itu membangun pusat data di area di mana mereka bisa mendapat energi listrik dari sumber tergantikan.

Namun Greenpeace, dalam laporan tersebut, juga memuji Yahoo karena membangun datacenter di dekat Buffalo, New York, yang akan menggunakan sumber listrik hidro.

sumber

Saturday, March 27, 2010

1.200 Lokasi Terkenal di Dunia Akan Gelap Gulita

Sebanyak 1.200 tempat terkenal di dunia, termasuk Piramida di Mesir, Menara Eiffel di Prancis, dan Kota Terlarang di China akan gelap gulita Sabtu 27 Maret 2010.

Gerakan ini bersama dengan jutaan orang dari berbagai negara. Mereka akan mematikan lampu dalam momen "Earth Hour", sebuah gerakan akar rumput bertujuan untuk memerangi perubahan iklim.

Tahun ini, memasuki tahun keempat, event ini akan menjadi event terbesar dengan ribuan kota di 125 negara bersiap untuk ambil bagian dalam gerakan ini. Sebanyak 37 negara yang tahun lalu belum turut serta, tahun ini ikut berpartisipasi.

Meski Konferensi Kopenhagen menghasilkan output lembek dan baru-baru ini muncul kontroversi terkait teori-teori mengenai perubahan iklim.

Publik masih berharap akan ada tindakan nyata untuk menghindar dari bencana pemanasan global, seperti yang dikatakan penggagas Earth Hour, Andy Ridley.

"Semacam ada kelelahan publik pada faktor politik yang mengelilingi (isu perubahan iklim), tetapi warga dunia lebih sangat termotivasi tahun ini dibanding tahun lalu," kata Ridley pada sebuah kantor berita seperti dikutip surat kabar Straits Times.

Ditangani oleh organisasi konservasi lingkungan, WWF, "Earth Hour" dicanangkan pertama di Sydney, Australia, pada tahun 2007. Dengan 2,2 juta orang mematikan lampu di rumah dan kantor selama 60 menit merujuk pada konsumsi listrik dan polusi karbon di dunia.

Kampanye itu melaju ke tingkat global pada tahun berikutnya, dan hari ini, lebih dari 1.200 tempat-tempat terkenal di dunia akan mematikan penerangan pada pukul 8.30 malam waktu setempat.

Salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta,
Grand Indonesia, siap berpartisipasi dalam ajang Earth Hour 2010. Beberapa titik di pusat perbelanjaan itu akan dipadamkan selama 1 jam.

"Pemadaman listrik dari jam 20.30 sampai 21.30 WIB ini, akan mengurangi konsumsi listrik sekitar kurang lebih 2 Megawatt atau 2 juta Watt," kata Teges Prita Soraya, Senior Marketing Communication Manager, Grand Indonesia ShoppingTown, Jakarta, Jumat 26 Maret 2010.

Monumen Nasional termasuk ikon Jakarta yang mengikuti aksi global Earth Hour 2009 yakni pemadaman listrik selama satu jam. Namun tak semua bagiannya dimatikan listriknya: puncak Monas masih bercahaya.

Monas merupakan satu dari lima ikon yang dimatikan listriknya pukul 20.30-21.30 ini. Empat ikon lainnya itu yakni Bundaran Hotel Indonesia, Gedung Balaikota Jakarta, Patung Pemuda, dan Air Mancur Arjuna Wiwaha.

Namun saat pemadaman resmi dilakukan di Balaikota Jakarta, puncak Monas ternyata masih benderang. Ratusan peserta aksi global di Balaikota melihatnya dengan jelas, termasuk Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

"Menurut aturan, lampu di puncak Monas memang tak boleh dimatikan sepanjang negara kesatuan masih ada," kata Fauzi Bowo, menjelaskan, Sabtu 28 Maret 2009.

Pusat-pusat perbelanjaan di sepanjang Orchard Road, Singapura pun akan ikut memperingati Earth Hour dengan mematikan lampu yang tidak diperlukan selama sekitar satu jam sebentar malam.

Lebih dari sepuluh pusat perbelanjaan (mall), termasuk mal-mal baru, di sepanjang jalan padat wisatawan ini mematikan lampu mulai pukul 8.30 malam waktu setempat.

Pelaksana kampanye menyebut event ini sebagai "24 jam gelombang harapan dan aksi".

Earth Hour akan menjadi program reguler Ibu Kota. Gerakan mematikan lampu dan perangkat elektronik selama satu jam ini akan dijadwalkan setiap Sabtu malam terakhir di akhir bulan.

sumber

Saturday, March 20, 2010

10 Fenomena Alam Terbesar Luar Angkasa

Terdapat berbagai hal yang mungkin tidak kita ketahui tentang alam di luar angkasa dan berbagai fenomena lainnya. Berikut ini 10 misteri di luar angkasa:

1. Tabrakan Antar Galaksi.


Ternyata galaksi dapat saling bertabrakan satu sama lain. Yang lebih mengejutkan adalah galaksi Andromeda sedang bergerak mendekati galaksi Bima Sakti kita.

2. Quasar.

Quasar tampak berkilau di tepian alam semesta yang dapat kita lihat. Benda ini melepaskan energi yang setara dengan energi ratusan galaksi yang digabungkan. Bisa jadi quasar merupakan black hole yang sangat besar sekali di dalam jantung galaksi jauh. Gambar ini adalah quasar 3C 273, yang dipotret pada 1979.

3. Materi Gelap (Dark Matter).

Para ilmuwan berpendapat bahwa materi gelap (dark matter) merupakan penyusun terbesar alam semesta, namun tidak dapat dilihat dan dideteksi secara langsung oleh teknologi saat ini. Kandidatnya bervariasi mulai dari neotrino berat hingga invisible black hole. Jika dark matter benar-benar ada, kita masih harus membutuhkan pengetahuan yang lebih baik tentang gravitasi untuk menjelaskan fenomena ini dan sampai sekarang para ilmuwan dunia masih menelitinya.

4. Gelombang Gravitasi (Gravity Waves).

Gelombang gravitasi merupakan distorsi struktur ruang-waktu yang diprediksi oleh teori relativitas umum Albert Einsten. Gelombangnya menjalar dalam kecepatan cahaya, tetapi cukup lemah sehingga para ilmuwan berharap dapat mendeteksinya hanya melalui kejadian kosmik kolosal, seperti bersatunya dua black hole seperti pada gambar di atas. LIGO dan LISA merupakan dua detektor yang didesain untuk mengamati gelombang yang sukar dipahami ini.

5. Energi Vakum.

Fisika Kuantum menjelaskan kepada kita bahwa kebalikan dari penampakan, ruang kosong adalah gelembung buatan dari partikel subatomik virtual yang secara konstan diciptakan dan dihancurkan. Partikel-partikel yang menempati tiap sentimeter kubik ruang angkasa dengan energi tertentu, berdasarkan teori relativitas umum, memproduksi gaya antigravitasi yang membuat ruang angkasa semakin mengembang. Sampai sekarang tidak ada yang benar-benar tahu penyebab ekspansi alam semesta.

6. Mini Black Hole.

Jika teori gravitasi braneworld yang baru dan radikal terbukti benar, maka ribuan mini black holes tersebar di tata surya kita, masing-masing berukuran sebesar inti atomik. Tidak seperti black hole pada umumnya, mini black hole ini merupakan sisa peninggalan Big Bang dan mempengaruhi ruang dan waktu dengan cara yang berbeda.

7. Neutrino.

Neutrino merupakan partikel elementer yang tak bermassa dan tak bermuatan yang dapat menembus permukaan logam. Beberapa neutrino sedang menembus tubuhmu saat membaca tulisan ini. Partikel phantom ini diproduksi di dalam inti bintang dan ledakan supernova. Detektor diletakkan di bawah permukaan bumi, di bawah permukaan laut, atau ke dalam bongkahan besar es sebagai bagian dari IceCube, sebuah proyek khusus untuk mendeteksi keberadaan neutrino.

8. Ekstrasolar Planet (Exoplanet).

Hingga awal 1990an, kita hanya mengenal planet di tatasurya kita sendiri. Namun, saat ini astronom telah mengidentifikasi lebih dari 200 ekstrasolar planet yang berada di luar tata surya kita. Pencarian bumi kedua tampaknya belum berhasil hingga kini. Para astronom umumnya percaya bahwa dibutuhkan teknologi yang lebih baik untuk menemukan beberapa dunia seperti di bumi.

9. Radiasi Kosmik Latar Belakang.

Radiasi ini disebut juga Cosmic Microwave Background (CMB) yang merupakan sisa radiasi yang terjadi saat Big Bang melahirkan alam semesta. Pertama kali dideteksi pada dekade 1960 sebagai noise radio yang nampak tersebar di seluruh penjuru alam semesta. CBM dianggap sebagai bukti terpenting dari kebenaran teori Big Bang. Pengukuran yang akurat oleh proyek WMAP menunjukkan bahwa temperatur CMB adalah -455 derajat Fahrenheit (-270 Celsius).

10. Antimateri.

Partikel (materi normal) juga mempunyai versi yang berlawanan dengan dirinya sendiri yang disebut antimateri. Sebagai contoh, sebuah elektron memiliki muatan negatif, namun antimaterinya positron memiliki muatan positif. Materi dan antimateri akan saling membinasakan ketika mereka bertabrakan dan massa mereka akan dikonversi ke dalam energi melalui persamaan Einstein E=mc2. Beberapa desain pesawat luar angkasa menggabungkan mesin antimateri.

(Dirangkum oleh: hendazvan, Kaskus)

Friday, March 05, 2010

Badai Matahari 2012 (Ralat: 2013)

Film fiksi ilmiah '2012' yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.

"Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015 (Ralat: Oktober 2013). Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari," ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati, Kamis (4/3/2010).

Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.

"Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata
dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia," imbuhnya. Dan Perkiraan ini berbeda dengan isu kiamat 2012 yang diramalkan Suku Maya. Masyarakat pun banyak menghubungjan antara badai matahari tersebut dengan isu kiamat 2012.

Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.

"Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah," jelas Elly.

Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.

sumber

Saturday, January 23, 2010

Menjaga Lingkungan Melalui Uji Emisi Kendaraan Bermotor

Pemerintah Indonesia khususnya pemerintah DKI Jakarta telah lama mencanangkan program uji emisi bagi kendaraan pribadi dan angkutan umum. Program ini bertujuan untuk dapat mengurang tingkat polusi udara di kota-kota di seluruh Indonesia. Namun, pada kenyataannya program ini kuramg bermasyarakat dan mendapat tanggapan dari pengguna kendaraan bermotor. Selain keberadaan hutan kota, program uji emisi ini pantas mendapat dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat. Uji emisi sangat diperlukan untuk menghindari polusi sekaligus demi kebersihan lingkungan udara di seluruh kota di Tanah Air.

Langkah ini merupakan wujud nyata turut mengurangi dampak pemanasan global yang diakibatkan gas buang dari berbagai kendaraan bermotor yang digerakkan bahan bakar fosil. Melihat fakta bahwa kebanyakan kota di Tanah Air, khususnya Jakarta sebagai Ibukota sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan dan berbahaya bagi kesehatan warganya.

Di tengah isu perubahan iklim, sekaranglah saat yang tepat untuk menciptakan lingkungan bersih di seluruh kota di Indonesia.
Kita tak perlu menunggu sampai makin banyak orang mengalami gangguan pernapasan akibat polusi udara yang tidak sehat.
Untuk menerapkan program ini dengan lancar, pemerintah setempat perlu mendorong bengkel swasta untuk mengadakan standar tertentu guna bisa melakukan pengetesan emisi kendaraan bermotor.

Masyarakat pemilik kendaraan bermotor harus sadar untuk melakukan uji emisi secara berkala. Dengan kata lain, seluruh stakeholder -kepolisian lalulintas, kementrian linglungan hidup dan perusahaan-perusahaan automotif diharapkan bersinergi guna menyukseskan program uji emisi demi menjaga lingkungan udara.

Kedepan, pemerintah perlu mempersiapkan bahan bakar alternatif penggganti BBM dari fosil seperti bio-cell atau electric power untuk kendaraan bermotor. Langkah ini penting perlu diupayakan jauh-jauh sebelumnya guna mencipatkan kota-kota sehat. Kota sehat warga sehat!

sumber

Monday, December 21, 2009

Bagaimana Menyikapi Dana Iklim Uni Eropa yang Tidak Cukup?

Pemanasan global mengancam berbagai masyarakat dunia yang tidak berdaya. Negara-negara berkembang dan badan-badan bantuan mengecam janji dana terbaru dari negara-negara kaya untuk menangani pemanasan global.
Menurut laporan BBC, Para pemimpin Uni Eropa mengakhiri pertemuan puncak di Brussels dengan menyepakati dana sebesar US$10,6 miliar dalam waktu tiga tahun untuk membantu negara-negara miskin menangani dampak perubahan iklim.

Dana bantuan dari Uni Eropa ini adalah bagian dari paket "awal cepat" global yang sedang diperdebatkan dalam KTT perubahan iklim di Kopenhagen.

Tetapi para pemimimpin negara-negara yang lebih miskin menyebut jumlah itu tidak cukup.

Dana itu merupakan sumbangan Uni Eropa terhadap paket yang diajukan sebesar US$10 miliar per tahun yang dimaksudkan untuk membantu Afrika, negara-negara pulau dan berbagai negara rentan lain untuk menghadapi perubahan iklim mulai bulan Januari mendatang sampai tahun 2012.

Dana itu dapat membantu mereka mendorong upaya pertahanan daerah pantai, menangani kekeringan, mencegah penebangan hutan dan menggunakan lebih banyak energi matahari dan angin.

Nah, bagaimana menyikapi bantuan dana sekecil itu?

Jangan selalu tergantung kepada negara kaya. Bagi Indonesia, mungkin akan terfokus pada pengelolaan hutan.
Lalu bagaimana dengan anda sediri? Langkah apa yang anda lakukan untuk membantu mencegah maakin parahnya pemanasan global, perubahan iklim, yang berdampak buruk bagi masyarakat yang tidak berdaya itu?
Hal-hal sekecil apapun yang anda lakukan akan sangat bermanfaat jika banyak orang yang melakukan hal yang sama.
Contoh kecil saja, menggunakan kendaraan bermotor seperlunya, atau gunakan sepeda sebagai pengganti kendaraan bermotor; lakukan penghijauan di sekitar anda, minimal di pekarangan rumah anda, jangan justru menjadi pelaku pembabatan hutan secara brutal.

Anda punya ide?
(Sumber foto: BBC)

Tuesday, December 15, 2009

Rumah Sehat dan Nyaman tanpa Kipas Angin dan AC


Rumah Sehat dan Nyaman tanpa Kipas Angin dan AC: "Di desa, apalagi rumah panggung, tanpa kipas angin atau AC mungkin tidak masalah, apalagi kalau model rumahnya mengikuti model rumah panggung orang Bugis yang banyak jendelanya. Tapi, di kota besar, dimana halaman rumah saja kadang tidak tersisa karena padatnya bangunan dan sempitnya lahan, maka kemungkinan besar jendela rumah tidak ada sama sekali, sehingga tanpa menggunakan kipas angin atau AC mungkin penghuninya akan merasa teroven apalagi kalau suhu udara lagi panas. Nah, agar rumah tetap sehat dan nyaman tanpa menggunakan kipas angin atau AC, saya tertarik dengan desain rumah yang menggunakan roof fan yag berputar sendiri tanpa menggunakan listrik. Disamping hemat energi, ramah lingkungan, saya yakin ini lebih sehat dan nyaman dibandingkan meggunakan kipas angin atau AC."

Tambahan : roof fan modelnya macam-macam, tapi fungsinya hampir sama, yaitu menghisap udara panas, debu, juga membantu sirkualsi udara. Cara kerja roof fan yang model Turbin Ventilator seperti yang ada di blog ini, yaitu alat ini berputar dengan memanfaatkan adanya tembusan angin dan perbedaan tekanan udara di dalam dan di luar ruangan. Udara panas akan naik ke atas dan akan menekan ke luar melalui sirip.

Ide ini dikirim untuk Holcim Healthy House Challenge.
Teman-teman, voting dong ideku ini. Caranya: Klik link ini, kemudian klik VOTE yang bergambar rumah di sebelah kanan judul ide saya.

Monday, December 14, 2009

Lingkungan : Pecahnya Suara Negara-Negara Berkembang pada Perundingan Iklim PBB di Kopenhagen

Salah satu tema yang menjadi kategori dalam kompetisi The BOBs Deutsche Welle ialah Perubahan Iklim. Itulah sebabnya, saya tertarik mengangkat tema itu dalam tulisan ini.

Menurut laporan BBC, pada hari ketiga perundingan iklim PBB di Kopenhagen, menyebutkan bahwa suara negara-negara berkembang terpecah. Negara-negara pulau kecil dan negara miskin Afrika yang rentan terhadap dampak perubahan iklim menghendaki kesepakatan yang mengikat lebih keras secara hukum daripada Protokol Kyoto. Namun posisi itu ditentang oleh negara-negara berkembang kaya seperti Cina, yang khawatir bahwa langkah yang lebih tegas akan menghambat pertumbuhan ekonomi mereka.
Sedangkan negara kecil di Pasifik, Tuvalu, menuntut perundingan ditangguhkan hingga masalah tersebut dipecahkan, dan tuntutan itu dipenuhi.

Perpecahan di blok negara berkembang ini luar biasa tajam, mengingat mereka biasanya cenderung berbicara dengan satu suara.

Jururunding Tuvalu Ian Fry menegaskan
tuntutan negaranya agar usulnya mengenai protokol hukum baru dibahas penuh tidak bisa ditawar-tawar. Tuvalu mengajukan usul tersebut ke konvensi iklim PBB enam bulan lalu. Seruan ini didukung oleh beberapa anggota lain Perhimpunan Negara Pulau Kecil (AOSI), termasuk Kepulauan Cook, Barbados dan Fiji, dan beberapa negara miskin Afrika, termasuk Sierra Leone, Senegal, dan Cape Verde.

Sebagian negara mengulangi tuntutan negara-negara pulau kecil bahwa kenaikan suhu bumi dibatasi hingga 1,5'C, dan konsentrasi gas rumah kaca stabil pada kadar 350 ppm bukannya 450 ppm seperti yang dikehendaki oleh negara maju dan beberapa negara berkembang utama.

Negara-negara yang ekonominya tumbuh pesat seperti Cina, India dan Afrika Selatan menentang target 350 ppm, sebab mereka melihat memenuhi target tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dalam konferensi di Kopenhagen, mereka juga menentang seruan Tuvalu mengenai protokol baru yang mengikat di samping Protokol Kyoto yang sudah ada. Mereka berpendapat konvensi yang ada dan Protokol Kyoto sudah cukup tegas.

Namun, kesepakatan yang ada tidak cukup tegas bagi negara-negara lebih kecil dan lebih rentan. Mereka terancam akan mengalami kerugian lebih besar akibat kenaikan permukaan air laut dan juga kesulitan ekonomis dari perjanjian yang keras.

Seperti saya pernah tulis di dalam artikel saya yang lain, bahwa pemanasan global itu sudah menjadi hukum alam. Tanpa industri besar pun pemanasan global akan tetap terjadi. Tapi, aktifitas manusia lah yang mempercepat dan memperparah kondisi itu. Produksi emisi gas rumah kaca akan terus meningkat dengan pesat jika semua negara khususnya negara maju tidak mengurangi produksi emisi gas rumah kaca mereka.
Masalahnya, lebih banyak orang-orang yang memikirkan diri sendiri ketimbang memikirkan orang lain dan lingkungannya. Menurut beberapa negara maju, mengurangi produksi emisi gas rumah kaca itu berarti mengurangi produksi / hasil industri mereka, sementara biaya operasional semakin naik, disamping itu, berkurangnya produksi berarti berkurangnya pendapatan negara.

Lihat saja kan? Negara berkembang saja sudah mulai memikirkan diri sendiri-sendiri. Bagaimana menurut anda?

Monday, October 13, 2008

Selamatkan Terumbu Karang

Tahun 2008 ini merupakan tahun terumbu karang internasional (International Year Of The Reef/IYOR) yang ditetapkan oleh International Coral Reef Initiative (ICRI), yang merupakan kampanye global untuk menyelamatkan terumbu karang. Untuk mendukung kampanye itu, mari kita kembali mengenal terumbu karang, manfaat serta masa depannya.


Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang memiliki struktur tubuh yang terdiri dari kalsium dan karbon, yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae, bentuknya menyerupai batu dan mempunyai warna yang beraneka ragam, menghasilkan zat kapur, hidup di laut dangkal dan hangat (21-30 derajat Celcius), dan hidup dari memakan mikro organisme laut. Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan pantai.

Manfaat terumbu karang:
- Terumbu karang melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen yang berguna bagi kehidupan hewan karang, sebaliknya hewan karang memberikan perlindungan bagi zooxanthellae ini, sehingga terbentuk ekosistem yang saling membutuhkan antara ribuan makhluk laut.
- Tempat hidup 25% habitat laut, termasuk hewan-hewan laut yang menjadi kebutuhan bagi manusia, seperti ikan-ikan, kepiting, udang dan masih banyak hasil-hasil laut lain (menjadi sumber makanan dan mata pencaharian). Selain sebagai sumber makanan dan mata pencaharian, hasil-hasil laut ini dapat menjadi komoditi eksport sehingga menambah devisa negara.
- Melindungi pantai dari pengikisan oleh air laut (abrasi), menahan gelombang laut agar tidak merusak ekosistem pantai (sama fungsinya dengan hutan bakau dan padang lamun),
- Dari segi keindahannya, menjadi obyek wisata bahari, sehingga dapat menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara, sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat sekitar dan juga devisa negara.
- Untuk bidang pendidikan, sebagai obyek penelitian.

Indonesia dikelilingi oleh laut, termasuk juga Sulawesi Selatan. Bukankah nenek moyang kita pelaut ulung yang terkenal dengan Phinisi-nya? Indonesia memiliki terumbu karang terluas di seluruh dunia yaitu 1/8 dari terumbu karang dunia. Dari terumbu karang Indonesia yang kurang lebih 60.000 km persegi luasnya (Wikipedia) dengan lebih dari 354 jenis karang, SAYANGNYA, tidak sampai 10% dalam kondisi baik.

Walaupun sebenarnya karang kelihatan sangat kokoh, namun ia sangatlah peka, sensitif, rapuh dan mudah hancur oleh perubahan lingkungan di sekitarnya, misalnya oleh sinar ultra violet, perubahan suhu yang sangat drastis dalam waktu singkat akibat pemanasan global. Kondisi lingkungan yang buruk akan menyebabkan terumbu karang menjadi stress dan terserang penyakit white syndrome (berubah menjadi putih, dan kemudian akan mati). Belum lagi tindakan manusia yang sengaja melakukan pengrusakan, pengeboman oleh nelayan untuk mendapatkan ikan/hasil laut, dan polusi/pencemaran air laut baik dari limbah rumah tangga, sampai pada limbah Rumah Sakit dan industri. Air laut yang tercemar dan keruh, juga menyebabkan sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis terhalang untuk menembus air laut. Semua itu makin memperparah kondisi terumbu karang, khususnya di Indonesia, dan di seluruh dunia.
Apabila terumbu karang ini rusak, maka ekosistem laut akan labil, lebih 3000 species makhluk hidup yang terdapat dalam habitat terumbu karang (khusus untuk di Asia Tenggara saja) juga ikut terancam. Padahal, terumbu karang butuh waktu berjuta tahun untuk tumbuh menjadi utuh dan indah.

Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk melindungi terumbu karang, yaitu menetapkan kawasan konservasi laut, pengelolaan wilayah pesisir dengan baik, tidak melakukan pengrusakan dan pengeboman di laut (terutama bagi nelayan), pembuangan dan pengolahan limbah rumah tangga dan industri dengan baik. Semua itu akan membantu menyelamatkan terumbu karang.

Merupakan kabar gembira, karena sebuah perusahaan baja Jepang menciptakan blok-blok untuk pengembangbiakan terumbu karang menggunakan residu produksi baja, uji coba telah dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa blok-blok baru ini meningkatkan 2x lipat proses pengakaran terumbu karang dibandingkan bila menggunakan kerangka konvensional. Semoga teknologi ini akan segera dapat dikembangkan dan dapat juga direalisasikan di Indonesia.

"Mari kita dukung kampanye penyelamatan terumbu karang. Menyelamatkan terumbu karang berarti menyelamatkan ekosistem laut".

Wednesday, September 24, 2008

Lingkungan: Pemanasan Global

Pemanasan global (Global Warming), efek gas rumah kaca merupakan fenomena alam yang terjadi seiring perjalanan waktu.

Ada apa dengan pemanasan global? Mari kita simak sedikit artikel saya.

Memang dalam beberapa tahun terakhir ini, pemanasan global telah terasa (mungkin) hampir di seluruh dunia, termasuk di tempat tinggal saya, di Kota Makassar, terutama dapat dirasakan pada musim kemarau, udara sangat panas, bahkan di kamar saya, kipas angin sepertinya tak begitu terasa. Meskipun tidak begitu parah seperti yang terjadi di luar sana, yang jika musim kemarau datang, akan terasa sangat panas, dan jika musim hujan tiba akan terjadi banjir yang menelan korban jiwa. Lebih besar lagi karena daerah gurun makin meluas, sementara es terus mencair di kutub, wilayah daratan makin tenggelam.

Pemanasan global tak bisa dihentikan. Saya kira itu sudah menjadi hukum alam. Tanpa industri besar pun pemanasan global akan tetap terjadi. Tapi, aktifitas manusia lah yang mempercepat dan memperparah kondisi itu. Produksi emisi gas rumah kaca akan terus meningkat dengan pesat jika semua negara khususnya negara maju tidak mengurangi produksi emisi gas rumah kaca mereka.
Masalahnya, lebih banyak orang-orang yang memikirkan diri sendiri ketimbang memikirkan orang lain dan lingkungannya. Menurut beberapa negara maju, mengurangi produksi emisi gas rumah kaca itu berarti mengurangi produksi / hasil industri mereka, sementara biaya operasional semakin naik, disamping itu, berkurangnya produksi berarti berkurangnya pendapatan negara.

Dewasa ini, beberapa negara industri maju berusaha meningkatkan produksinya dengan menggunakan teknologi canggih yang menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan serta masa depan bumi kita, sehingga kini kita sudah merasakan akibatnya. Lapisan ozon makin menipis, suhu udara makin meningkat, banjir di musim hujan, kekeringan, kebakaran hutan, meluasnya gurun, mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut sehingga wilayah daratan makin sempit. Semua itu merupakan dampak dari pemanasan global.
Walaupun berbagai pihak meneriakkan agar dilakukan pengurangan produksi emisi gas rumah kaca, mulai dari Protokol Kyoto, maupun pembicaraan-pembicaraan internasional mengenai perubahan iklim dan pemanasan global, tetap saja ada negara maju yang enggan untuk memangkas emisi mereka.

Upaya-upaya untuk mengatasi makin cepatnya laju pemanasan global, harus dimulai dari individu / diri kita masing-masing. Saya rasa, hal kecil seperti menghemat energi listrik, menghemat bensin seperti jalan kaki kalau jarak tujuan tidak terlalu jauh atau mengganti pemakaian kendaraan bermotor dengan sepeda, tidak menggunakan parfum yang mengandung gas Freon, menanam pohon di samping rumah, semua itu merupakan hal kecil yang jika setiap individu, rumah tangga hingga semua orang mau melakukannya, maka makin meningkatnya pemanasan global dapat kita atasi. Karena kesadaran dan kepedulian berawal dari diri pribadi kita masing-masing.

Dengan adanya artikel singkat ini, semoga kita lebih peduli terhadap lingkungan dan masa depan bumi kita ini.